|
Page 1 of 2 Minggu, 22 Juni 2008, Kota Jakarta berulang tahun ke 481. Ada acara dari milis Jelajah Budaya, Jalan-jalan sore Kota Tua. Sudah 3 kali saya ikut acara Jelajah Budaya dan selalu asyik.. paling tidak menambah wawasan dan pengalaman back to the old time Indonesia.
JJS kali ini kang mas Ario gak ikut, dia lebih memilih 'fox hunting' dengan geng ngebreaknya. Ya sudah.. saya ajak Aliya dan temannya Alika. Acaranya dimulai sore jam 4, tapi berhubung datangnya kesiangan jam 3 sudah sampai, jadi sempet keliling-keliling dulu ke Museum Wayang en stand-stand di Batavia Art Festival di taman Fatahillah.
Sampai di pelataran parkir Taman Fatahillah masih jam 3 kurang, waah.. di luar lumayan matahari lagi panas-panasnya. Hhmm.. cari yang dingin-dingin dulu deh. Jadilah kita mampir di Museum Wayang, kebetulan lagi ada exsebisi Wayang Kulit, lumayaan ber AC jadi bisa ngadem.
Museum Wayang lokasinya ya pas di seputaran Taman Fatahillah juga. Arsitektur gedungnya keren, karena dulunya bekas Gereja Hollandische Kerk. Dari taman tengah yang ada plaat dan batu nisan, katanya gereja ini dibangun tahun 1640, terus diperbaharui lagi tahun 1808. Yang saya gak ngerti kok ada tulisan JAN PIETERSZOON COEN in 1634 nya itu lho.. Lha.. si oom JPCoen ini is death di tahun 1629.. Lha terus tahun 1634 ini apa ya?? Mikir sejarahnya entar aja lah.. yang penting tempatnya lumayan ngaso-ngaso dan tenang. Eh iya.. bayar ticket museum 2ribu dewasa, anak-anak cukup 6ratus saja.. haaa murah yaa.. Batavia Art Festival sendiri banyak lho kegiatannya. Yang pasti ada drumband lengkap, ada panggung band, ada happening art, ada stand-stand museum, ada stand-stand makanan. Nih dia nih yang menarik.. stand Museum Bank Mandiri dengan ide tema sumur lengkap cucian tempo doeloe. Hhmm.. anak-anak sekarang mana ngerti tuh nimba air dan nyuci pake gilasan kayu jadul.. Jadi kebayang sekitar 35 tahun lalu, waktu saya masih balita liburan di tempat nenek di kampung. Minum air dingin langsung dari sumur, dimasukin ke gentong.. huaah...
JJS Jelajah Budaya dimulai jam 4 lebih. Ternyata pesertanya melimpah.. wuah... Animo masyarakat sebenarnya kan memang besar... apalagi pas weekend, libur anak-anak, murah merihah, sehat, ada unsur education lagi. Peserta yang ikut saya taksir sekitar 500 orangan deh, terbagi dalam kelompok-kelompok yang dikasih nama seputaran betawi tempo dulu. Ada kelompok kue pancong, gambang kromong, situ babakan, roti buaya, apa lagi ya.. banyak buanget.. Setiap kelompok ada guidenya masing-masing. Nah.... Guide yang saya ikuti kebetulan si abang yang punya gawe, abang Kartum sendiri. Jadi ya boleh tenang deh.. kita berangat udah jam setengah 5 an tuh.
Belum keluar dari lingkungan Taman Fatahillah, ada gedung tua yang jadul banget.. heemmm lumayan seyeeemm, tapi kok saya bilang keren yaa.. lho?? ada tulisannya Dasaad Musin Concert. Selidik punya selidik, ini bangunan dulunya salah satu kantor konglomerat bangsa pribumi yang namanya Dasaad Musin, sekelas Hasyim Ning gitu, sahibul hikayatnya. Bolehlah buat bikin cerita-cerita horor.. Oh iya.. sepanjang perjalanan, kita dikawal sama si abang opas nih.. pulisi patroli jaman kumpeni yang naek sepeda ontel. 
Setelah melewati jalan-jalan yang tidak biasa (jalan Cengkeh, jalan Tongkol dan sekitarnya) melewati perkampungan, ranjau lumpur, pool truk-truk besar dan kontainer, kita sampai ke point interest pertama, Gudang Gandum (Graanpakhuizen), nama beken dari Gudang Sisi Timur (Oostzidtsche Pakhuizen). Sebuah gudang tua yang sudah ada pohon tumbuh di atapnya. Di sebelah timur dari gudang ini ada lagi sisa sisa terakhir reruntuhan tembok Benteng Batavia. Inilah salah satu sisa monumen gudang dari jaman kumpeni VOC dulu. Kebayang gak tuh.. bangunan dari sekitar abad 16. Wah.. Dulunya, gudang ini terdiri dari 4 bangunan, terletak di dalam benteng Batavia yang dikelilingi sungai Ciliwung yang besar (hhmm... kayak amsterdam kali ya... ). Jaman jayanya, gudang ini tempat menyimpan perbekalan logistik untuk perlayaran, ya beras, gandum, kacang kacangan, rempah-rempah. katanya sih setiap kapal VOC yang mendarat di Sunda Kelapa, pasti mengambil perbekalannya dari gudang ini. Itu kapal akan menyusuri sungai Ciliwung, dan berlabuh di sisi tembok benteng untuk bongkar muat barang, ya untuk keperluan logistik maupun keperluan perdagangan. Wah gak kebayang yaa.. di abad 16 itu, ada kapal-kapal besar melintasi sungai Ciliwung yang pasti sangat lebar yang posisinya saat ini ada sekitar 1 kilometer dari tepi pantai saat ini. Hah...
Sayangnya sekarang tertinggal hanya satu gudang 'horor' dan reruntuhan sisa tembok Benteng, karena pembangunan jalan tol dan perkembangan kota sebagian besar harus direlakan dihancurkan. Sangat berbeda nasibnya dengan saudara kembarnya yaitu Westzidtche Pakhuizen yang sekarang jadi Museum Bahari.
|