|
Page 1 of 2 Inilah trip kemping keluarga pertama kami, Taman Nasional Gunung Halimun, 18-20 November 2004. Yaa.. hampir 4 tahun yang lalu!!. Setelah sekian lama foto-foto di sini hilang, waah.. terima kasih untuk mpok Antin dan mas Pudjo yang bersedia berbagi foto dan menggali pengalaman bersama. Kemping keluarga yang pertama akan selalu berkesan dan yang satu ini memang ruarrr biasa....
Kemping nekad ini bermula dari mas Aria dan mas Dik yang memang cita-citanya ingin kemping bersama-sama keluarga.. what ever it takes.. walau dengan perlengkapan seadanya. Jadi yang berangkat saat itu adalah keluarga saya (saya, mas Aria, Aliya waktu itu 6,5 th dan Selma 1,5 tahun), keluarga mas Dik (mas Dik, mbak Ning dan Alif 4 tahun), Antin dan Pudjo. Jadi... anak-anaknya masih kecil-kecil bow.... Selma masih belajar jalan en pake pampers.. he he he...
Kenapa pilih TNG Halimun?? waah.. terus terang tertarik sama canopy trailnya itu lho... jembatan gantung yang direntang dari satu pohon ke pohon lain. Sebelumnya gak ngerti juga lokasi pencapaiannya yang heemmmm lumayan 'berat and breath...'. Maklum tahun 2004 blom marak blog-blog en info di internet, jadi ya modal nekat aja.. he he he...
Secara perlengkapan juga.. waaah.... boleh dibilang 'cukup' menderita... Gimana enggak.. tenda yang dipakai masih tenda dome 3 orang yang kalau masuk harus membungkuk dan gak bermerek, sleeping bag baru ada 2 en gak bisa bawa banyak, lampu gas en emergency lamp blom punya. Yah... kemping model kuliahan dulu lah... Jalan ke TNG Halimun lumayan lama... dari Jakarta sampai ke Kabandungan, Parung Kuda - jalan raya arah Sukabumi, belok kanan sebelum Cibadak- sekitar 2 jam. Lapor dan registrasi di kantor TNGHalimun, di sini udah rada ketar-ketir.. karena perjalanan baru tahu ternyata masih jauuuuhhh... But the show must go on.. jadilah melanjutkan perjalanan di jalan yang fully makadam (jalan batu + tanah) sekitar 4 jam. Mungkin jarak sebenarnya gak terlalu jauh, paling hanya sekitar 20 km. Tapi.. berhubung jalannya berbatu dan melingkar-lingkar, masuk hutan, ditambah hujan lumayan lebat di separuh perjalanan jadinya ya luamaaa... Hari sudah sore, hujan rintik-rintik waktu kami sampai di perkebunan teh Nirmala kampung Citalahab. Desa ini adalah titik akhir jalur jalan batu. Dan ternyata, lokasi camping ada di lembah, berjalan sekitar 500 m dari desa. Huaah... bagaimana ini?? hari sudah lumayan remang-remang, belum buka tenda, bawa anak balita, hujan rintik-rintik lagi. Akhirnya, dikirim tim pemula mas Aria, mas Dik dan mas Pudjo sambil bawa barang. Sementara mas Dik dan mas Pudjo pasang tenda, mas Aria jemput yang tertinggal sambil gendong si baby Selma. Saya masih ingat, itu sudah hampir magrib. Wah.. penuh perjuangan. Malamnya, hujan deras! dan parahnya lagi... tenda saya bocor!! haduuh... beberapa bagian tenda basah, dinginnya.. huaduuh... enggak bisa dibilang deh... Eh, Alhamdulillah, anak-anak tidur ya tidur saja. Tidak terganggu?? Mungkin terganggu sih yaa.. tapi karena terlalu capek dan hangat karena berdesak-desakan ya bisa tidur juga. Besok paginya hangat matahari pagi mengeringkan tenda-tenda yang basah. Wah.. anak-anak senang, lapangan rumput, kali kecil yang dingin, bentang hutan di depan mata, suara-suara musik alam, waah.. saat itu suatu yang baru. Perjalanan penjelajahan dimulai setelah sarapan.
|