|
Page 1 of 2 Sepulang mengantar sekolah si kakak, meluncur dari kawasan Pulomas, iseng saya dengerin I-radio. Seperti biasa, pasangan bang Rafiq en jeng Poetri sedang bersilat lidah yang ringan dan yang lucu. Nah... yang dibahas pagi itu berawal dari pelajaran bahasa daerah yang harus dipelajari di SD. Kalau sekolahnya masuk wilayah DKI Jakarta, ya dapatlah pelajaran budaya Jakarta. Nah kalau yang di luar Jakarta, ya mereka mendapat pelajaran bahasa Sunda. Awal ceritanya sih ngomongin masalah CD alias celana dalam (ini mah kayaknya isengannya bang Rafiq). Kalau dalam bahasa sunda katanya namanya 'cangcut', atau bahasa betawinya 'kancut'. Nah kalau bahasa Jawanya, katanya, 'katok'. Lho.... terus kenapa juga dengan Gudeg?? Dimana hubungannya???
Itu dia kehebatannya bang Rafiq en jeng Poetri. Maka dibelokkanlah ceritanya ke Ranah Minang.. lho.. apa pula ini?? Jadi, kata bang Rafiq, si 'katok' itu kalau di Ranah Minang sana namanya 'kotok'. Menurut sahibul hikayat, jamannya Singosari (wah ... jadul bener kann... sekitar akhir abad 13 atau sekitar 1275M), waktu itu terjadilah yang disebut Expedisi Pamalayu, yaitu ide Prabu Kertanegara mempersatukan Nusantara dengan menaklukan atau beraliansi dengan kerajaan-kerajaan Melayu. Jaman itu di Melayu - daerah yang sekarang Sumatra Barat dan sekitarnya, penduduknya belum memakai CD... nah diperkenalkanlah oleh orang-orang Jawa si 'katok' ini. Orang sana gak bisa nyebut 'katok' dengan cengok Jawa, jadilah diucap ' kotok'. Lho... kok blom ada gudeg gudegnya???.. Dongengnya bang Rafiq belum selesai. Dalam expedisi itu juga terjadi interaksi dan asimilasi. Naahh.. ceritanya di Padang sana kan ada Gulai Nangka yang pedas, untuk menyesuaikan dengan lidah orang jawa yang suka manis, gulai nangka itu diberilah gula merah, dibawa ke Jawa yang lama kemudia menjadi Gudeg. Plus kreceknya juga asal muasalnya dari Pdang juga yang kalau di sana disebut 'Karupuak jangat'. Begitu ceritanyaa... huaaa... kecewa gak??? Ini yang menarik menurut saya.. Selain cerita-cerita ngalor ngidul, bang Rafiq juga menyinggung, pada saat expedisi Pamalau itu, urusan Singasari membawa cinderamata berupa patung/arca Amogapasya, terbuat dari batu yang tingginya lebih dari 4 m. Hmmm... bagaimana membawanya ya??? remember.. that was end of 13AD. Waduh.. expedisinya berarti besar-besaran.. dari daerah Jawa Timur sono mengarah ke daerah Jambi - terus ke arah Sumatra Barat !! Hebat bukan....
|